To Write is like To Breath^^

One wish that i still can't fullfill it; To be a Writer. But i do still had this wish come along in every word that i put in here. Well, better than never. Enjoy:)

Minggu, 28 Maret 2010

Episode III: Ujian Itu

Ujian Itu

“Assalammu’alaykum Jeng Sofie, mau masak apa nih.” Sapa Bu Hadi tetangga sebelah Sofie.
Sofie yang sedang sibuk memilih bayam di tukang sayur keliling langganan tersenyum ramah, “Wa’alaykum salam Bu Hadi. Ini, mau masak sayur bayam kesukaan Mas Danu.”
“Ohh…iya ya Jeng, memang kita harus pinter-pinter manjain suami, kalau ga bisa-bisa suami kita kabur.” Canda Bu Hadi. Sofie tersenyum sopan menanggapinya. Sesungguhnya Sofie kurang suka ngobrol sama Bu Hadi. Yang sudah-sudah pasti ujung2nya ngajakin Sofie gossip..Upss..Asraghfirullah…harus Husnudzon ya…Sofie beristighfar.
“Ngomong-ngomong Jeng Sof, gimana nih, sudah “isi” belum?”Tanya bu hadi menyelidik.
Duuuh! Sofie paling malas kalau sudah ditanyakan hal yang satu ini.
Berusaha tersenyum Sofie menjawab,”Doakan saja ya Bu, biar cepet.”
“Jeng Sof, mbok ya diperiksakan. Jeng Sof kan sudah lama menikah, takut kenapa-kenapa loh.” Bu Hadi berkata dengan nada yang dibuat serius, “engg…Jeng Sof sama suami ga punya masalah “itu” kan?”
Astagfirullah Bu Hadi ini! Keterlaluan! Menanyakan hal pribadi yang bukan urusannya! Di depan tukang sayur lagi!
Setengah mati menahan marah Sofie berujar,”Terima kasih atas sarannya, Bu. Maaf, saya terburu2, sudah siang harus masak.” Lalu tanpa menunggu jawaban dari Bu Hadi, Sofie lekas membayar belanjaannya dan meninggalkan Bu Hadi.
Sekilas masih terdengar ucapan pelan Bu Hadi,” Diperhatikan tetangga kok ya Ndak sopan seperti itu..huh…” Sofie berusaha mengacuhkan ucapan tetangganya itu, hatinya beristighfar berulang kali.


Mencoba melupakan kejadian tadi pagi, siangnya Sofie jalan-jalan di Hypermarket dekat rumahnya, sekalian membeli keperluan bulanan. Ketika sedang memilih buah jeruk kesukaan suaminya, Sofie dikejutkan dengan satu tepukan halus di pundaknya.
“Mbak Sofie ya?”
Sofie menoleh dan menjumpai wajah yang dikenalnya dengan baik waktu SMU dulu.
“Subhanallah, Kartika? Apa kabar? Lama ya kita ga ketemu?” Sofie memeluk Kartika, adik kelasnya sewaktu di SMU. Kebetulan Sofie dan Kartika dulu sama-sama aktif di Rohis sekolah.
“Alhamdulillah baik Mbak, Mbak Sofie gimana?” wajah Katika sumringah.
“Alhamdulillah Tika, aku baik. Eh, kamu sekarang tinggal dimana? Masih di kebayoran?”
“Alhamdulillah Mbak, saya udah pindah ke daerah sekitar sini. Ikut suami.” Kartika menjawab dengan tersipu.
“Wah, alhamdulillah. Kamu udah nikah ya? Selamat ya. Kapan nikahnya Tik? Aku ga diundang nih?”
“Iya maaf ya Mbak. Saya ga ngundang banyak orang soalnya. Dua bulan yang lalu Mbak.”
“Iyah , gak pa pa kok. Wah penganten baru nih.”Goda Sofie.
Kartika tersenyum malu lagi,” bisa aja Mbak Sofie. Alhamdulillah juga saya lagi “isi” Mbak, baru dapet 5 minggu, doakan ya Mbak.”
Sofie tersenyum kagok, antara senang dan iri,”Alhamdulillah, iya aku doain deh.”
Dalam hatinya berharap Kartika tidak bertanya2 padanya soal “isi-mengisi” ini.
“Kalo Mbak Sofie?” Sofie tersenyum simpul, firasatnya benar.
“Aku juga sudah menikah, Alhamdulillah sudah masuk tahun kedua nih.”
“Wah, Subhanallah. Udah punya jagoan atau putri nih Mbak?”
“Engg…kebetulan belum dua-duanya Tik, doain aja ya biar nyusul kamu.”Sofie berusaha tersenyum. Dalam hatinya ia ingin cepat2 menyelesaikan pembicaraan ini. Soalnya Sofie paling ga tahan melihat tatapan orang-orang yang seakan2 iba ketika mengetahui bahwa dirinya belum dikaruniai anak, padahal sudah lama menikah!
“wah, maaf ya Mbak,”suara Kartika terdengar iba,”iya pasti saya doain deh.”
“Iya ga pa-pa Tik. Ya sudah, sampai ketemu lagi ya. Aku musti buru2 nih, belum masak.”
“Ok deh Mbak, salam buat suaminya ya. Assalammu’alaykum.”
“Sama2 Tik, wa’alaykum salam.” Segera Sofie berlalu, moodnya untuk belanja bulanan jadi hilang. Hatinya sedih, tiba-tiba saja dia merasa sangat iri dengan nasib baik Kartika. Menahan air mata, Sofie melangkah pulang.

Dalam perjalanan pulang tiba-tiba saja Sofie menjadi sangat sensitive. Ketika dia melihat sepasang suami-istri dengan seorang anak balitanya yang sedang bersenda gurau, hatinya dilanda kecemburuan yang teramat sangat. Belum lagi ketika seorang pedangang mainan anak melintas sambil menawarkan dagangannya ke Sofie,”sayang anak bu, sayang anak? Beli mainannya Bu?”
Sofie yang lagi sensi spontan mendelik sewot ke abang tukang mainan. Ga tahu apa si abang kalo saya belum punya anak? Dalam hati ia protes. Tinggal si abang tukang mainan yang bingung disewotin sedemikian rupa oleh Sofie..duile nih Ibu galak bener ya…demikian batinnya Sofie mempercepat langkahnya. Rabbi…kapankah Kau akan mempercayakan padaku untuk memiliki anak? Tes…akhirnya air mata itu jatuh juga di pipi putih Sofie….


Sore harinya, sambil menunggu suaminya pulang Sofie mendengarkan acara tanya jawab agama di salah satu stasiun radio. Acara itu diasuh oleh seorang Ustadz yang sedang digandrungi oleh kaum ibu saat ini.
“Jadi Ustadz, apa yang harus saya lakukan? saya belum mau memliki anak. Saya dan suami bermaksud untuk berkarir dulu, kami belum mau direpotkan oleh kehadiran anak, sementar saya sudah hamil. Bagaimana Ustadz, apakah saya boleh menggugurkan kandungan saya?”
Astaghfirullah! Wanita macam apa dia yang tega menggugurkan kandungannya sendiri? Sofie geram. Dirinya yang sangat merindukan kehadiran anak tapi belum juga diizinkan untuk mengandung merasa sangat marah pada si penelpon tadi!
Akhirnya tanpa ingin mendengarkan lebih jauh lagi, Sofie mematikan radionya. Hatinya kesal, mengapa ada wanita seperti itu yang tidak mensyukuri karunia Allah yang Maha Agung?
Sofie menghela nafas. Tiba-tiba dirinya merasa lelah sekali. atau lebih tepatnya hatinya merasa sangat lelah. Hari ini betapa ia mencoba untuk menahan emosi, sementara Sofie bukanlah orang yang pandai dalam menahan kesabaran. Tiba-tiba juga ia merasa kangen berat sama suaminya, dan lagi-lagi air mata menetes di pipinya. Sofie terisak sendirian, dia benci sekali mengapa dia menjadi sangat melankolis begini? Cepat dia beristighfar, Ya Rabb, Yang Maha membolak-balikkan hati, semoga kesedihan ini hanya sesaaat saja…Sofie mengusap air matanya, menarik nafas panjang, berusaha untuk mengendalikan emosinya. Tiba-tiba didengarnya suara ibunya dari pintu depan.
“Assalammu’alaykum… Sofie?.”
Bergegas Sofie membukakan pintu untuk ibunya.
“Wa’alaykum salam, Bu.” Sofie mencium tangan ibunya.
“ini ibu bawakan bolu pisang kesukaanmu. Loh, kamu habis menangis ya Sof?”ibunya mengamati wajah Sofie yang sendu.
Sofie tersenyum, “Masuk yuk Bu, kita ngobrol di dalem aja.” Sofie menarik tangan ibunya. Mereka duduk di ruang makan.
“Ada apa Sof? Mau cerita sama ibu?” tanya ibu lembut.
Sofie terdiam. Sebenarnya dia malu pada ibunya, jika harus meributkan hal ini lagi.
“Sofie…Sofie merindukan kehadiran anak Bu..” akhirnya Sofie berkata pelan.
Ibunya merasa prihatin. Dia tahu betul kalau Sofie sudah sangat berusaha untuk bisa hamil. Mulai dari usaha yang tradisional, sampai konsultasi rutin ke dokter. Beliau mengerti bahwa semua ini tidaklah mudah untuk anaknya.
“Bersabar Sofie..hanya itu yang bisa ibu sarankan untuk kamu..” ibu menggenggam tangan Sofie, mencoba memberikan semagat untuknya.
“Sofie tahu Bu. tapi..mengapa kadang sangat sulit buat Sofie? Apalagi setelah yang Sofie alami hari ini….” Maka keluarlah semua unek2 yang Sofie alami hari ini. Mulai dari obrolannya dengan Bu Hadi sampai saat ia pulang dari hypermarket.
Ibunya menghelas nafas, beliau tersenyum,”Nak, janganlah hal2 seperti itu membuat imanmu menjadi goyah. Keyakinan dalam hatimu itu penting, Sof. Kamu harus yakin bahwa semua ini sudah digariskan oleh Allah, bahwa ini memang yang terbaik dariNya, untuk kamu, suamimu, bahkan juga untuk ibu,”Ibu membelai kepala Sofie,”semua ini hanya ujian Nak, hidup adalah ujian dariNya. Yang terpenting kita sebagai manusia tidak lepas dari usaha, doa dan sabar. Kalau sudah begitu InysaAllah..kamu pasti juga sudah paham kan Sof?” suara ibu yang lembut memang selalu ampuh menenangkan hati Sofie jika ia sedang dilanda kegelisahan.
“Bu, terima kasih ya sudah menyadarkan Sofie lagi..”Sofie mencium tangan ibunya,”Tapi Bu..apa Ibu ga kepingin menimang cucu?”
Ibu tersenyum lagi,”Ya pingin dong Sof…tapi ibu sadar sepenuhnya, masalah anak itu adalah hak Allah. Makanya ibu tak henti2nya mendoakan kamu.”
Sofie otomatis memeluk ibunya erat,”terima kasih ya Bu.” Sekejap segala kegelisahannya perlahanpun sirna..


Setelah mencurahkan perasaannya pada Ibu sore tadi, Sofie sudah merasa jauh lebih baik. Dan saat ini berdua dengan Danu, suaminya, Sofie duduk di teras sambil mengamati bintang-bintang yang bersinar dengan terangnya.
“Mas…” Sofie menggelayut manja di lengan suaminya.
“Ehmm..kenapa Sof?”
“Gimana hari ini di kantor? Ada kejadian yang menarik ga?”
“Wah tumben nih kamu nanyain kantorku, ada apakah gerangan?” Danu tersenyum menggoda
“Ih Mas ini…masa ga boleh aku nanyain tentang kerjaanmu…”Sofie setengah merajuk
“Hehehe…bercanda sayang…Ya boleh dong. Malah aku senang, tandanya istriku perhatian,”Danu merangkul Sofie,”ehmmm….kejadian apa yaa? Oh iya ada yang menarik Sof, tapi bukan tentang kerjaan sih.”
“Oh iya? Tentang apa, Mas?” Sofie penasaran
“Itu, teman kantorku si Yudi. Dia kan baru jadi Bapak tuh. Tadi dia cerita, kewalahan dia Sof. Sekarang hampir setiap malam dia harus bangun malam, gantian sama istrinya jagain bayinya. Jadi, kalo pagi bisa dibayangin deh, udah kayak orang yang ga tidur!” cerita Danu geli.
Sofie terdiam. Baginya cerita suaminya ga ada lucu-lucunya. Malah Sofie sangat ingin mengalami hal seperti itu. Duh..kayaknya Sofie “kumat” lagi nih.
“Eh Sof, kok diam? Kenapa?” kali ini Danu cepat menangkap “signal ga beres” Sofie.
“Emang Mas ga kepingin ya, kayak temen Mas gitu?” tanya Sofie pelan.
“Kayak Yudi? Kurang tidur gitu? Ya ga kepingin dong Sof, bisa-bisa aku ga Fit kerjanya, hehehe.”
Hemm..Danu “telat” lagi nih.
“Ohh, jadi Mas ga kepingin ya punya anak?” Sofie sebel setengah mati mendengar jawaban suaminya.
“Loh?” Duh, salah lagi deh aku..bathin Danu,”Bukan itu maksudku Sof. Aku pasti kepengen punya anak.” Danu mencoba menenangkan istrinya yang terdengar senewen. Dirinya mulai merasa bahwa sensi Sofie lagi kumat..harus waspada! Hehehe..
“kamu kenapa Sof? Kok kayaknya sedih begitu?” lembut Danu bertanya
Sofie melankolis! Tes…air matanya mulai menetes lagi.
“Mas, kalo kita ternyata ga bisa punya anak gimana?” Sofie terisak
“Istighfar Sof…ucapan itu doa kita. Kitakan sudah pernah mendiskusikan soal ini. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah pasrah atas kehendak Allah. Tentunya diiringi dengan usaha, doa dan sabar kita.” Danu membelai pipi istrinya.
“Tapi Mas…kadang Sofie suka ga tahan sama pertanyaan orang-orang,,,”
Danu tersenyum,” Duh, istriku sayang, gitu aja kok repot? Tinggal bilang aja;”iya, belum isi nih, minta doanya ya?” kan dengan begitu jadi makin banyak orang yang doain, makin besar kesempatan kita punya anak, betul ga?” hibur Danu.
Tersenyum, Sofie menggangguk.
“Nah, gitu dong. Janji ya Sof, mulai sekarang kamu ga boleh sedih lagi. Apapun yang terjadi, InsyaAllah semua adalah yang terbaik dariNya.”
Sofie menggangguk lagi,”Iya mas, Sofie akan berusaha untuk lebih bersabar lagi. Mas terus ingetin Sofie ya?”
“InsyaAllah, sama-sama ya sayang.” Mesra Danu merangkul istrinya. Sofie tersenyum bahagia. Walau rasa gelisah itu masih tersisa, namun ada keyakinan baru di hati Sofie, bahwa Allah akan selalu bersama hamba-hambanya yang bersabar…
Istiqomah ya Sofie…

Episode II: Kedatangan Mbak Lastri

Kedatangan Mbak Lastri

Minggu pagi yang cerah. Burung bersiul dengan riangnya. Matahari bersinar hangat. Saat ini Sofie sedang sarapan berdua dengan suaminya. Danu, pria berkacamata itu sedang sibuk dengan koran paginya, sementara Sofie asyik menyantap roti dengan selai cokelat kesukaannya.
”Oh iya, Sof, ” tiba2 Danu menghentikaan bacaannya.” Hari Selasa nanti, Mbak Lastri akan datang.”
Uhuukk! Spontan Sofie hampir keselek mendengar omongan suaminya. Aduuhh..Mbak Lastri? Semoga Sofie salah dengar..semoga bukan Mbak Lastri...
”Pelan2 dong sayang, kalau makan.” Danu menepuk2 punggung istrinya. Huuh..Mas Danu ga tahu sih, bukan gara2 roti ini, tapi gara2....
”Mas, Mbak Lastri?Maksudnya mau datang ke rumah kita gitu Mas?”
”Iya Sof, dia lagi pengen liburan ke sini selama 3 hari. Kamu siapin kamar yah buat dia.” kemudian Danu meneruskan bacaannya.
Sofie menggigit bibirnya. Aduuhh, alamat ga beres nih. Langsung saja Sofie teringat pada saat kepulangan mereka ke Jogya, kampung halaman Danu Lebaran lalu. Mbak Lastri itu kakak tertua Danu. Kedua orang tua Danu sudah tiada, jadi otomatis saban lebaran, semua keluarga besar Mas Danu berkumpul di rumah Mbak Lastri.

Sofie ingat betul, saat itu pernikahannya baru masuk bulan ke tiga. Wajar dong, kalo Sofie belum bisa masak ini itu, belum telaten ngurus suami. Tapi sepertinya di mata Mbak Lastri, kalau seorang wanita sudah menjadi istri, otomatis harus bisa masak, harus bisa telaten ngurus suami dan kebisaan2 yang lainnya. Jadilah Sofie waktu itu diceramahi panjang lebar oleh Mbak Lastri. Sepertinya di mata kakak iparnya itu, ga ada perbuatan Sofie yang tidak tercela! 3 hari di Jogya saat itu seperti 3 tahun buat Sofie! Saat Sofie curhat kepada suaminya mengenai Mbak Lastri, hanya jawaban ini yang didapatnya,” ya Sabar Sof. Mba Lastri memang seperti itu. Kamu harus bisa adaptasi ya sayang.” huh..bukan solusi. Semenjak itu Sofie jadi pasrah alias nrimo saja.

Dan kini..lusa Mbak Lastri akan datang.. Rabbi...apakah Sofie bisa siap yah, menghadapi Mbak Lastri kali ini..?


Phiiuuhh...saatnya tiba. Sebentar lagi Mbak Lastri akan datang! Mas Danu yang hari ini mengambil cuti untuk menjemput Mba Lastri tadi menelpon, mengabarkan bahwa pesawat Mbak Lastri sudah landing dan saat ini sedang on the way ke rumah. Sepagian Sofie sudah beres2 rumah. Dia yakin betul, tidak ada satu sudutpun yang terlewat! Sementara di meja sudah terhidang semur daging, sayur bayam dan bakwan jagung bikinannya. Eh..sebenernya bukan asli bikininannya sih...tadi pagi ibunya datang membantu sedikit..hehehe...
Sayang ibunya tidak bisa menemaninya menyambut Mbak Lastri, karena masih ada pesenan kue kering yang harus diselesaikan. ” Yang sabar ya Sof. Jangan emosi, ingat loh.” nasihat ibunya.

Ba’da Ashar, terdengar mobil Mas Danu memasuki halaman rumah. Sudah datang! Bergegas Sofie merapikan mukenanya, lalu setengah berlari menuju ke pintu depan. Sofie deg2an sekali. Sofie sudah berdiri di teras sambil memasang senyuman manisnya. Sebenarnya, saking gugupnya Sofie malah merasa dia meringis, bukan tersenyum hehe..
”Mbak Lastri. Assalammu’alaykum,. Apa kabar Mbak?” Sofie bergegas menyambut, mencium tangan Mbak Lastri.
Mbak Lastri tersenyum,”Wa’alaykum salam. Alhmadulillah Mbak baik Sof.” Mbak Lastri memelukku.
”Ayo Mbak, kita masuk. Mbak pasti lelah.” Sofie menggamit tangan Mbak Lastri, mengajak masuk ke rumah.
”Iya Mbak, biar Danu yang bawa tas Mbak.” Danu dengan sigap menurunkan tas2 bawaan Mbak Lastri.
Sofie langsung membawa Mbak Lastri ke kamar tamu yang terletak di lantai atas.
”Mbak istirahat saja dulu ya. Air hangat sudah Sofie siapkan kalau Mbak ingin mandi.”
”kamu baik sekali Nduk. Mbak memang sudah kepingin mandi, jakarta panas sekali.”
”Ya sudah, kamar mandinya di pojok situ Mbak. Sofie tinggal dulu ya.” Mbak Lastri tersenyum menggangguk.
Sukses! Setidaknya Sofie sudah memberikan kesan pertama yang baik!Hemm...mungkin kunjungan Mbak Lastri tidak akan separah yang Sofie bayangkan. Girang, Sofie tersenyum.


Namun rupanya harapan tinggal harapan. Belum ada sehari Mbak Lastri menginap, Sofie sudah mulai menerima kritikan yang tiada duanya!
Bermula saat mereka akan makan malam bersama. Memang salah Sofie sih, karena lupa memanaskan sayur bayamnya. Tapi toh, sayur bayam yang adem juga pasti enak dimakan dengan nasi panas yang mengepul!
”Nduk, kalo sayur itu harus selalu hangat dihidangkannya. Mosok sayur dingin begini kamu kasihkan ke suamimu? Mbak ya ga heran kalo suamimu jadi ga betah di rumah.” Sofie mengkeret, menyalahi dirinya kenapa bisa lupa memanaskan sayurnya.
”Eh, anu Mbak Lastri, Sofie lupa. Biar Sofie panaskan sekarang saja ya.”sigap dia mulai menyalakan kompor.
”Sudah ga usah, kelamaan. Kasihan Danu sudah kelaparan. Jangan sampe dia ga makan gara2 sayur dingin saja.”
Sofie manyun. Sementara Mbak Lastri sudah melangkah menuju meja makan. Dirinya merasa 3 hari kedepan akan menjadi hari yang sangaaat panjang...sigh....

Hari Pertama.
Pagi sekali Sofie sudah mulai bersih2, padahal biasanya sehabis mengantar Mas Danu pergi ke kantor Sofie suka tidur lagi..hehhee...tapi kali ini lain! Dari subuh Sofie sudah mulai gratak grutuk di dapur. Danu sempat2nya menggoda istrinya itu.
”Aduuh..coba kalo tiap hari kamu kayak gini yah..hihihi..”
Uhhh! Sofie gemas, segera saja tangannya melayang mencubit pinggang suaminya. Yang dicubit malah semakin cekikikan sambil negloyor pergi.
Phiiuuhh..Sofie benar2 berharap hari ini dan seterusnya Mbak Lastri mengurangi segala kritikan yang kadang bikin kuping Sofie merah!
Hemm..Mbak Lastri belum bangun. Segera Sofie membuatkan teh buat Kakak iparnya dan suaminya.
”Aduh Sofie. Kamu ini kok boros sekali sih.” Mbak Lastri tiba2 muncul di dapur. Sofie kaget, hampir saja teko yang sedang dipegangnya terlepas dari tangannya!
”Eh, Mbak Lastri sudah bangun. Nge-teh dulu Mbak, ini sudah Sofie buatkan.”Sofie tersenyum gugup.
”Nduk, kamu kalo bikin teh celup jangan hanya satu-dua kali dicelupkan, itu namanya pemborosan! Mana coba kantong tehnya?”, Sofie menyerahkan kantong teh celup yang memang belum dibuangnya,” Nah gini lebih baik, kamu taruh saja di tekonya. Makin lama kan makin pekat, bisa sampe sore.”
Sofie melongo...masalahnya....
”Sof, mana tehku?” suaminya kali ini yang muncul di dapur.
Sofie menyerahkan secangkir teh yang pekat.
”Ya ampun Sof, kok pekat gini sih? Aku kan udah bilang, aku ga suka teh yang item kayak gini. Kamu lupa ya?”
”eehh..ngg anu mas...” Sofie tak bisa berkata2, matanya melirik ke Mbak Lastri.
”Ya sudah, gpp. Lain kali diingat ya sayang. Sudah siang nih, Mas berangkat dulu ya,”Cup, Danu mengecup kening Sofie,” Assalammu’alaykum, Mbak, Danu berangkat.”
Mbak Lastri menggangguk,”Wa’alaykum salam, ati2 ya Nu.”
”Wa’alaykum salam mas..ati2 dijalan..” Sofie mencelos..Rabbi...berikutnya apa?


Hari kedua.
Sofie terbangun dengan malas. Rasanya ingin sekali ia berpura-pura sakit sehingga bisa berdiam diri di kamar sepanjang hari. Kemarin seharian ia sepertinya terus melakukan kesalahan di mata Mbak Lastri! Dari mulai mencuci piring sampai goreng telor ceplok! Sofie yang terbiasa meggoreng telor ceplok dengan bagian merahnya yang terbuyar (lagi2) di beri komentar oleh Mbak Lastri. ”Sofie, kalau goreng telor ceplok jangan dibuyarr gitu merahnya, pamali tahu ga?” tinggal Sofie yang (lagi2 ) cuman bisa manut kritikan Mbak Lastri. Padahal dia ga ngerti dimana letak pamalinya
Siighhh.....padahal masih ada hari ini dan esok! Ketika Sofie keluar dari kamar, di dapur Mbak Lastri terlihat sibuk menyiapkan sarapan, sedangkan Mas Danu sudah duduk di meja makan sambil membaca koran. Sofie menghentikan langkahnya, diam2 mebalikkan badannya, namun terhenti ketika mendengar Mbak Lastri memanggilnya.
”Sofie, baru bangun ya,”Sofie meringis,”Kalau Istri itu bangunnya harus lebih pagi dari suami Nduk. Masa suami sudah mau sarapan istriya masih tidur.” entah mengapa, Sofie jadi ingin menangis mendengarnya. Kan baru kali ini aja Sofie bangun kesiangan! Mbak Lastri mana tahu sih! Danu melirik istrinya, dengan sorotan mata seakan2 mengatakan:”Sabar ya Sof”
Sofie sudah akan meminta maaf ketika didengarnya lagi Mbak Sofie,” Sof, ini Mbak belikan tauge. Nanti dimasak tumis aja ya, biar kamu subur, cepet punya anak.”
Ta..tauge..?su..bur..?Ya Rabbiiii! Jadi Mbak Lastri pikir Sofie ga subur? Makanya belum punya anak? Ya Allah, kali ini Sofie bener2 ga tahan. Setengah mati berusaha menahan air matanya Sofie berkata,”Maaf Mbak Lastri, bukannya Sofie bermaksud untuk tidak sopan, ”Sofie menghela nafas, menahan tangis. Danu panik, melihat gelagat ga beres.
”Dengan segala hormat, Sofie subur Mbak! Sofie dan Mas Danu ga punya masalah dengan kesuburan. Dan..dan kalau sampai saat ini Sofie belum hamil, itu karena Allah yang belum memberikannya kepada kami. Jadi Mbak Lastri ga berhak untuk bilang Sofie ga subur!” emosi Sofie memuncak, nafasnya tersengal menahan amarah, air matanya tak tertahankan lagi, kemudian ia berbalik lari ke kamarnya.
Mbak Lastri terbelalak kaget melihat ”keberanian”Sofie meluapkan emosinya, sampai ga tahu harus berkata apa. Sementara Danu surprise melihat Sofie yang kalem bisa semarah itu, sesaat ia juga sama terkejutnya dengan Mbak Lastri.
”Mbak...”
”Danu..” berbarengan mereka akhirnya berbicara, Danu salah tingkah. Ia merasa sangat bingung. Satu sisi ia kasihan dengan istrinya, tapi di sisi lain ia juga sangat menghormati Mbak Lastri.
”Mbak rasa, Mbak akan pulang hari ini. Sepertinya kehadiran Mbak disini sudah mengganggu istrimu.” lalu tanpa berkata apa-apa lagi Mbak lastri bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Tinggal Danu yang bingung harus berbuat apa?
Di kamar, Sofie terisak-isak. Sungguh rasanya ia sudah tak tahan lagi dengan sikap Mbak Lastri.
”Sof...” danu menyentuh bahu istrinya pelan, lalu duduk di samping Sofie.
”Maaf kan Sofie Mas, Sofie tahu Mas Danu pasti kecewa dengan sikap Sofie tadi. Tapi Mas, Sofie sunguh tersingung atas sikap Mbak lastri..” masih terisak Sofie berbicara.
Danu menghela nafas. Dia memang kecewa dengan sikap Sofie, tapi dia juga mengerti perasaan istrinya.
”Mas ngerti Sof...Mas kecewa memang. Sofie jangan minta maaf sama Mas, tapi dengan Mbak Lastri. Dia tadi kaget banget liat sikapmu.”
Sofie menghapus air matanya,”Mas benar, sudah seharusnya Sofie minta maaf sama Mbak Lastri.” Sofie bangkit dari tempat tidur.
Danu tersenyum,”Terima kasih ya Sof.” Sofie berusaha untuk tersenyum, lalu pergi ke kamar Mbak Lastri.

Di kamarnya, Sofie menjumpai Mbak lastri sedang membereskan koper-kopernya. Sofie merasa tidak enak sekali, rupanya Mbak lastri tersinggung berat dengan sikapnya tadi. Pelan dia mengetuk pintu kamar.
”Mbak Lastri...,”
Mbak Lastri tidak menjawab, hanya menoleh sekilas lalu meneruskan beres-beresnya.
Sofie mendekat lalu duduk perlahan di tempat tidur.
”Mbak Lastri mau kemana? Sofie minta maaf atas sikap Sofie tadi Mbak. Sungguh Sofie ga bermaksud menyinggung perasaan Mbak Lastri...”
Mbak Lastri tidak menjawab, Sofie jadi semakin salah tingkah!
”Mbak...Sofie mohon..Mbak mau maafin Sofie,...Sofie...”
”Sudahlah Sof,”selak Mbak Lastri, ”Mbak sudah mengerti kehadiaran Mbak disini jelas-jelas sudah mengganggu kamu. Makanya,Mbak mau pulang hari ini saja.”
”Aduh Mbak, Mbak Lastri jangan berpikiran seperti itu. Sofie senang dengan kehadiran Mbak Lastri disini..hanya...” Sofie menggantungkan kalimatnya
”Hanya apa Sof? Bener toh, kamu ndak kerasan kalo ada Mbak.”
”Ga Mbak..sungguh..” Sofie bingung harus bagaimana menjelaskan pada Mbak Lastri.
”Lalu kenapa? Mbak sudah merasa sejak awal kamu menikah dengan Danu, kamu itu ndak suka sama Mbak..” tiba-tiba saja Sofie menangkap kesedihan di kalimat Mbak Lastri.
”Mbak Lastri,”Sofie menggenggam lembut tangan Mbak Lastri,”Bukan seperti itu Mbak. Sofie menyesal kalau Mbak Lastri merasa seperti itu. Sesungguhnya, semua ini karena Sofie takut Mbak..”
”Takut kenapa Nduk?”tanya Mbak Lastri heran.
”Takut...kalo ternyata Sofie ga bisa jadi adik ipar yang baik buat Mbak. Apalagi...sejak awal menikah, sepertinya semua yang Sofie lakukan selalu salah di mata Mbak Lastri. Sofie jadi bingung, karena Sofie sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik..” Sofie berkata pelan. Matanya ga berani untuk menatap Mbak Lastri.
”Ya Allah Sof...kamu itu istri yang baik untuk Danu, Nduk..”Mbak Lastri tersenyum.
”lantas, kenapa...”
Kini Mbak Lastri yang menggenggam tangan Sofie,” Maaf ya Nduk, kalau Mbak sudah membuat kamu merasa seperti itu. Semua itu Mbak lakukan karena Mbak ingin kamu bisa membahagiakan Danu utuh sebagai istrinya. Danu itu anak yang baik Sof. Semenjak ibu dan Bapak meninggal, Mbak yang mengurus Danu. Mbak hanya ingin kamu bisa”mengurus” Danu dengan baik. Mungkin...juga bercampur dengan perasaan Mbak yang ”kehilangan” Danu...” Mbak Lastri berkata pelan.
” Mbak, Sofie itu istri yang baik buat Danu. Dia bisa mengurus Danu dengan baik, Mbak ndak usah khawatir.” tiba-tiba saja Danu masuk ke kamar,” Maaf ya Mbak, danu semenjak tadi sudah mendengarkan pembicaraan Mbak sama Sofie.”
Mbak Lastri tersenyum,” Ndak apa le, Mbak yang minta maaf, karen sudah menyinggung perasaan istrimu.”
Spontan Sofie rasanya ingin sekali membahagiakan Mbak Lastri, dipeluknya Mbak Lastri,” Sofie yang minta maaf Mbak. Mbak lastri jangan pulang hari ini ya. Sofie pengen banget diajarin masak sama Mbak”
Mbak Lastri mengusap air mata harunya,” Bener Sof, Mbak masih boleh disini?”
”Mbak Lastri bicara apa toh? Mbak lastri mau disini sampai bulan depan juga Sofie akan senang sekali, Mbak. Disini kan juga rumah Mbak Lastri.”
Mbak Lastri memeluk Sofie,”terima kasih ya Nduk..
Danu tersenyum bahagia. Akhirnya ada ”damai” antara Sofie dan Mbak Lastri.

Episode I: Ngambek

Ngambek

Berulang kali Sofie mematut dirinya di cermin. Hemm, rasanya sudah sempurna! Jilbab pink dengan gamis Pink bunga putih pemberian Mas Danu di hari ulang tahunnya yang lalu. Sekarang, tinggal menunggu Mas Danu pulang kantor. Biasanya Mas Danu tiba di rumah tapat pukul setengah 7, dan itu berarti 5 menit lagi!

Sembari menunggu Sofie menyibukkan dirinya dengan membaca majalah muslimah yang baru dibelinya. Namun tak bisa dipungkiri, hatinya deg2an menunggu Mas Danu pulang. Sebentar2 matanya melirik jam dinding di depannya. Setengah 7 lewat 5 menit. Hemm..sebentar lagi mungkin. Setengah 7 lewat 15 menit...cemas! ahh..mungkin Mas Danu terjebak macet sedikit. Lewat 30 menit, jam 7, jam 8, jam 9...air mata mulai merebak di wajah cantik Sofie. Mas Danu keterlaluan! Dihubungi handphonenyapun tidak aktif! Padahal ini kan hari spesial mereka. Hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, masa sih mas Danu bisa melupakannya? Padahal Sofie sudah dari 2 minggu yang lalu berusaha mengingatkan Mas Danu. Yah..memang secara tidak langsung, soalnya Sofie yakin Mas Danu ingat dengan janji mereka di awal pernikahan dulu, bahwa hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, akan mereka rayakan dengan makan malam berdua. Dan sekarang? Bahkan Mas Danu ga ngasih kabar kenapa jam segini belum juga pulang.

Sofie ketiduran. Pukul 12 malam tiba2 ia mendengar suara pintu pagarnya dibuka. Benar saja! Mas Danu sudah pulang. Sofie tidak bergeming dari sofa. Rasanya malas sekali membukakan pintu buat suaminya itu. Hatinya kecewa, marah, kesal, sedih semuanya jadi satu!

”Assalammu’alaykum Sofie.” Mas Danu masuk sambil tersenyum. Ah, hampir saja Sofie lupa, Mas Danu punya kunci cadangan, katanya kalau pulang malam jadi Sofie ga perlu nungguin hingga larut.

”Kok belum bobo Sof? Maaf ya aku telat, tadi ada lembur dadakan. Aku juga lupa banget nelpon kamu, handphoneku juga low bat.” Mas Danu menjelaskan sambil melepas sepatunya dan kaus kakinya. Keterlaluan! Bahkan Mas Danu tidak memperhatikan dandanan Sofie yang sudah rapi jali begini. Sofie masih diam seribu bahasa. Tadinya Sofie sudah merencanakan apa saja yang bakalan ditumpahkan ke suamiya itu, namun kini kenyataannya, tak ada satu katapun yang mampu keluar dari bibir mungilnya.

”Sof, maaf ya. Aku mau langsung tidur, rasaya letih sekali. Kamu mau tidur juga kan?” Sofie mengangguk lemah.

”oh iya Sof,” ah!akhirinya mas Danu ingat!,” maaf ya, aku lupa beliin martabak telor kesukaaan kamu, padahal kamu udah mesen tiga hari yag lalu tapi aku lupa banget. Maaf ya Sof, besok deh InysaAllah.”

Martabak? Sofie tak percaya! Yang diingat suaminya malah martabak!Semangat Sofie langsung surut...digigitnya bibir bawahnya menahan kekecewaan yang teramat sangat. Mas Danu bener2 telah lupa rupanya.

Cup, Mas Danu mencium keningnya. ”Aku duluan tidur yang Sof. Kamu nyusul ya.” dan tanpa berkata apa2 lagi Mas Danu masuk ke kamar.

Uuugghhh! Mas Danu keterlaluaaannn! Sofie berteriak, namun hanya dalam hati.

Pagi2 Sofie dibangunkan oleh kecupan mesra dari Mas Danu. ” Sofie sayang, selamat ulang tahun pernikahan ya.” sofie terbangun dengan bahagia, rupanya Mas Danu hanya pura2 lupa, padahal ia ingat dan Mas Danu sudah merencanakan surprise untuk dirinya!

”Sofie juga sayang Mas, muuaacch!”

”Sof, Sofie. Kamu kenapa? Ayo bangun sudah subuh.” tiba2 Sofie merasakan pipinya ditepuk2. kaget Sofie terbangun. Lalu manyun, tersadar bahwa semuanya tadi hanya mimpi.

Pokoknya Sofie mau ngambek! Ya ngambek! Pasti efektif! Mas Danu pasti kemudian akan tersadar dan akhirnya akan ingat hari ulang tahun pernikahan mereka! Sebisa mungkin Sofie memasang muka cemberut, hal ini sulit loh! Soalnya kata Mas Danu, walaupun cemberut Sofie pasti akan terlihat tersenyum, soalnya wajah Sofie manis sekali. Sofie jadi tersenyum mengingat rayuan suaminya itu. Namun buru2 dihapusnya senyumannya itu. Pokoknya ga ada senyum manis, dan Sofie gak akan ngomong kalo ga kepaksa. Maskudnya kalo Mas Danu ga nanya, Sofie ga akan ngomong. Yah..walaupun lagi aksi ngambek, Sofie masih merasa harus menghormati suaminya, kan pengen jadi istri yang sholihah! Istri sholihah kok ngambek?....kan masih belajar...Sofie membela diri dalam batinya..hehehe.

Sofie tetap menyiapkan sarapan Mas Danu, mereka tetap sarapan bersama. Sesekali Sofie melirik ke arah suaminya. Yang di demo nampaknya ga nyadar! Mas Danu asyik aja menyuap sepiring nasi goreng kesukaannya. Sofie tambah mengkel. Bibirnya jadi tambah manyun karena kesal.

”Kok kamu diam saja sih Sof?” akhirnya sadar juga! Sofie bersorak dalam hati.” lagi sakit gigi ya? Makanya aku kan udah bilang, kamu cepet2 ke dokter gigi, biar ditambal gigi kamu yang bolong itu.”

Sofie yang sudah membuka mulutnya, jadi melongo. Sakit gigi..?oh Mas Danu....

”Ya udah, aku berangkat dulu ya sayang. InsyaAllah nanti ga lembur lagi kok. Minum obat ya Sof, biar sakit giginya reda sedikit. Nanti hari sabtu aku antar ke dokter gigi, oke?” Cup, seperti biasa Mas Danu mencium kening Sofie,” Assaammu’alaykum.”

”Wa’alaykum salam....” Sofie lemas....

”kamu juga sih Sof, udah tahu Mas Danu lupa, bukannya dingatkan, malah diambekin.” ibu tersenyum geli mendengar curahan hati Sofie yang berapi2.

Ya, saat ini Sofie sedang di rumah ibunya. Beruntung rumah Ibu ga teralu jauh dari rumahnya. Mas Danu memang sengaja memilih lokasi yang dekat dengan Ibu. Katanya, biar kalo Sofie atau ibu kangen atau kesepian mereka bisa langsung saling berkunjung.

”Ibu kok malah nyalahin Sofie sih?” Sofie manyun. Namun tangannya dengan cekatan membantu menyetak kue2 kering yang sedang dibuat ibunya. Memang terkadang ibu menerima pesanan kue kering, semenjak Ayah Sofie meninggal karena sakit 2 tahun yang lalu. ”Lumayan buat ngisi waktu senggang Sof” demikian jawab ibunya ketika suatu saat Sofie protes, karena khawatir ibunya akan kelelahan. Akhirnya Sofie mengalah, lagipula Alhamdulillah hingga saat ini ibunya masih sehat2 saja, malah Sofie jadi ketularan bisnis kue kering dengan membantu mempromosikan kue2 bikinan ibunya.

Ibu tersenyum melihat bibir Sofie yang maju 5 senti. ”Sof, manusia itukan tempatnya lupa. Ibu yakin Mas mu ga bermaksud melupakan hari jadi kalian itu. Siapa tahu dia sedang banyak pikiran, banyak kerjaan di kantornya? Mbok ya kamu saja yang mengingatkan, beres toh? Kamu jadi ga perlu ngambek2 begitu, selain ga enak dliatnya, kamu juga kan yang cape.”

”Tapi Bu, seharusnya Mas Danu ga boleh lupa! Itukan udah komitmen kita berdua waktu awal nikah dulu.” Sofie bersikeras.

”Wong kamu aja juga dulu lupa toh sama ulang tahunnya Mas mu? Tapi apa iya Mas mu marah? Ndak toh?” ibunya mencoba mengingatkan.

Sofie terdiam, kali ini dia kena batunya. Memang dia waktu itu telah melupakan ulang tahun suaminya. Percaya ga? Yang ngingetin malah ibunya sendiri! Duh, betapa malunya Sofie waktu itu kepada Mas Danu.

”Iya, tapi kan ini lain!” tandas Sofie tetap ga mau kalah. Ibunya hanya bisa menggelengkan kepala. Sofie yang anak tunggal memang manja, sekaligus keras kepala. Tapi ibunya kenal betul tabiatnya. Ibu yakin, pasti Sofie tetap memikirkan kata2nya.

Malam hari selepas sholat isya berjamaah dengan Mas Danu, Sofie duduk2 sendiri di teras rumah. Hatinya masih sedih, sepulang kantor tadi Mas Danu belum menunjukkan tanda2 bahwa dia telah ingat akan ulang tahun pernikahan mereka. Malah dengan riang gembira Mas Danu memberikan Sofie sekotak martabak telor hangat yang telah dijanjikan 3 hari sebelumnya, seakan dia telah melakukan hal yang brillian! Padahal ada

yang lebih penting dari janji martabak telor itu...sighh..Sofie jadi makin sedih.

”Aduh genduk ayu, kok ngelamun aja, lagi mikirin mamas ya?”

Tiba2 Danu sudah muncul di sampingnya merangkul mesra istri tersayangnya. Ah..Mas Danu, kenapa siy Mas lupa dengan hari jadi kita? Sofie hanya bisa membathin.

Sofie tersenyum tipis. Rupanya Danu mulai menangkap gejala ga beres pada diri istrinya. Telat euyy!

”Sofie kenapa sih Sayang? Mas perhatiin kok dari kemarin malam diam saja. Gara2 sakit gigi bukan?” terus terang Danu mulai ragu dengan teori sakit giginya itu. Karena biasanya walau sedang sakit gigi sekalipun, Sofie gak akan sediam ini. Lagian...siapa suruh nuduh...

”Sof, bicara dong. Mas jadi bingung nih..” nada khawatir dari Danu justru membuat Sofie jadi menangis. Dia terharu, karena akhirnya Danu memperhatikannya, sekaligus sebal karena suaminya telat betul menangkap signal2 darinya.

Tak disangka isakan tangis Sofie malah membuat Danu semakin panik. Memang bukan yang pertama kali Sofie nangis bombay begini. Tapi pasti ini menandakan ada sesuatu yang gawat sedang terjadi.

”Sayang Sofie, bicara dong!”

”hik..hik...Mas Danu keterlaluan...hik hik..” Sofie terisak2 berbicara.

”Loh, kenapa Sof? Mas Danu salah apa?”

”Hiik..Mas Danu benar2 ga inget ya? Hikks...”

Ga inget? Ya Allah, Danu berpikir keras. Apa yang tidak diingatnya sehinga Sofie jadi nangis bombay begini?emmm.....uang bulanan? Sudah. Ulang tahun Sofie? Sudah. Apa dong? Danu jadi frustasi. Namun tiba2 bagaikan orang yang terdasar dari amnesia Danu teringat!

”Astaghfirullah, ya Allah...Sofie sayang Mas minta maaf yaah. Kemarin kan hari ulang tahun pernikahan kita. Mas benar2 lupa. Pantas saja kamu dandan rapi. Mas baru ngeh, seharusnya kan kita makan malam diluar. Maaf ya sayang.”

”huaaaaaaa...!”entah mengapa tangis Sofie malah semakin meledak. Danu jadi kelimpungan.

”Shhh..Sayang, cup diam dong. Malu sama tetangga.” Danu panik.

”Habis...Mas Danu sih! Sofie kan sudah menanti2kan malam kemarin. Mas malah lupa sama sekali!”

” Iyaa..iya, mas tahu. Mas menyesal sekali.”

”Udah gitu, Sofie ngambek Mas juga nyuekin!” Sofie ngomel.

”Loh, jadi dari kemarin kamu ngambek toh? Aduh sayang, Mas pikir kamu beneran sakit gigi. Lagian Sofie ga keliatan ngambeknya, Sofiekan manis.” Danu merayu

”Gombal!”

”Loh, bener kok. Sekarang aja Sofie tetep manis walaupun nangis.” goda Danu

”Ih Mas Danu!” Sofie mencubit pinggang suaminya.

”Aww!! Iya, iya maaf ..hehe...bercanda sayang. Mas bener2 minta maaf ya. Kemarin itu ada proyek dadakan di kantor. Mas jadi ga konsen, mikirin proyek itu. Sofie mau kan maafin Mas?”

Sofie masih manyun. Danu tersenyum. Dia tahu Sofie sudah memaafkannya. Tiba2 Danu teringat lagi akan sesuatu.

Dengan cepat dia melesat ke dalam rumah. Tak lama ia kembali dengan sebuah kotak kecil di tangannya.

Sofie terkejut. Ya Allah, ternyata Mas Danu sudah menyiapkan kado untuknya! Bahkan Sofie ga punya apa2 buat Mas Danu. Duhh Mas Danu, sekejap Sofie sudah melupakan kekesalannya.

”Ini buat kamu. Sebenernya aku udah beli dari 2 minggu yang lalu. Memang untuk kado ulang tahun pernikahan kita. Ga tahunya malah lupa pas hari H nya..hehhehe...”

Sofie terenyuh. Perlahan dibukanya kotak tersebut, ternyata isinya gelang emas putih yang Sofie idam2kan! Mas Danu tahu betul kalo Sofie menginginkan gelang itu. Waktu itu ketika mereka berjalan2 di mall, Sofie pernah mengutarakan keinginannya, namun tak pernah menyangka kalau Mas Danu ternyata membelikan gelang itu untuknya!

”tapi Sofie ga punya apa2 buat Mas..” Sofie berkata pelan.

Cup, Danu mencium keningnya. ”Senyuman Sofie itu kado yang terindah buat Mas.”

Ahh....Mas Danu...Sofie jadi menyesal akan tingkah kekanakannya kemarin.

”Sofie minta maaf ya Mas, karena udah ngambekin Mas.”

Danu tersenyum,”Sama2 sayang. Mas juga minta maaf. Lain kali kalau ada apa2 lagsung dibicarakan saja ya. Ga usah pake ngambek. Kan kasian kamunya Sof, udah ngambek, eh...malah dicuekin sama aku..hehehhehe..”

”Ahhhh Mas Danu .”tangan lentik Sofie menggelitik pinggang suaminya. Danu yang ga tahan kalau dikelitikan spontan tertawa kegelian. Sofie merasa tidak pernah sebahagia ini. Rasanya plong sekali. Dalam hatinya ia berjanji akan selalu berkomunikasi jika ada masalah lagi. Sementara di kelamnya langit malam, bulan sabit bersinar dengan terangnya. Seakan memberikan senyumannya kepada sepasang sejoli yang sedang bercanda dengan mesranya. Aahh...cinta itu memang indah bukan..?