Ujian Itu
“Assalammu’alaykum Jeng Sofie, mau masak apa nih.” Sapa Bu Hadi tetangga sebelah Sofie.
Sofie yang sedang sibuk memilih bayam di tukang sayur keliling langganan tersenyum ramah, “Wa’alaykum salam Bu Hadi. Ini, mau masak sayur bayam kesukaan Mas Danu.”
“Ohh…iya ya Jeng, memang kita harus pinter-pinter manjain suami, kalau ga bisa-bisa suami kita kabur.” Canda Bu Hadi. Sofie tersenyum sopan menanggapinya. Sesungguhnya Sofie kurang suka ngobrol sama Bu Hadi. Yang sudah-sudah pasti ujung2nya ngajakin Sofie gossip..Upss..Asraghfirullah…harus Husnudzon ya…Sofie beristighfar.
“Ngomong-ngomong Jeng Sof, gimana nih, sudah “isi” belum?”Tanya bu hadi menyelidik.
Duuuh! Sofie paling malas kalau sudah ditanyakan hal yang satu ini.
Berusaha tersenyum Sofie menjawab,”Doakan saja ya Bu, biar cepet.”
“Jeng Sof, mbok ya diperiksakan. Jeng Sof kan sudah lama menikah, takut kenapa-kenapa loh.” Bu Hadi berkata dengan nada yang dibuat serius, “engg…Jeng Sof sama suami ga punya masalah “itu” kan?”
Astagfirullah Bu Hadi ini! Keterlaluan! Menanyakan hal pribadi yang bukan urusannya! Di depan tukang sayur lagi!
Setengah mati menahan marah Sofie berujar,”Terima kasih atas sarannya, Bu. Maaf, saya terburu2, sudah siang harus masak.” Lalu tanpa menunggu jawaban dari Bu Hadi, Sofie lekas membayar belanjaannya dan meninggalkan Bu Hadi.
Sekilas masih terdengar ucapan pelan Bu Hadi,” Diperhatikan tetangga kok ya Ndak sopan seperti itu..huh…” Sofie berusaha mengacuhkan ucapan tetangganya itu, hatinya beristighfar berulang kali.
Mencoba melupakan kejadian tadi pagi, siangnya Sofie jalan-jalan di Hypermarket dekat rumahnya, sekalian membeli keperluan bulanan. Ketika sedang memilih buah jeruk kesukaan suaminya, Sofie dikejutkan dengan satu tepukan halus di pundaknya.
“Mbak Sofie ya?”
Sofie menoleh dan menjumpai wajah yang dikenalnya dengan baik waktu SMU dulu.
“Subhanallah, Kartika? Apa kabar? Lama ya kita ga ketemu?” Sofie memeluk Kartika, adik kelasnya sewaktu di SMU. Kebetulan Sofie dan Kartika dulu sama-sama aktif di Rohis sekolah.
“Alhamdulillah baik Mbak, Mbak Sofie gimana?” wajah Katika sumringah.
“Alhamdulillah Tika, aku baik. Eh, kamu sekarang tinggal dimana? Masih di kebayoran?”
“Alhamdulillah Mbak, saya udah pindah ke daerah sekitar sini. Ikut suami.” Kartika menjawab dengan tersipu.
“Wah, alhamdulillah. Kamu udah nikah ya? Selamat ya. Kapan nikahnya Tik? Aku ga diundang nih?”
“Iya maaf ya Mbak. Saya ga ngundang banyak orang soalnya. Dua bulan yang lalu Mbak.”
“Iyah , gak pa pa kok. Wah penganten baru nih.”Goda Sofie.
Kartika tersenyum malu lagi,” bisa aja Mbak Sofie. Alhamdulillah juga saya lagi “isi” Mbak, baru dapet 5 minggu, doakan ya Mbak.”
Sofie tersenyum kagok, antara senang dan iri,”Alhamdulillah, iya aku doain deh.”
Dalam hatinya berharap Kartika tidak bertanya2 padanya soal “isi-mengisi” ini.
“Kalo Mbak Sofie?” Sofie tersenyum simpul, firasatnya benar.
“Aku juga sudah menikah, Alhamdulillah sudah masuk tahun kedua nih.”
“Wah, Subhanallah. Udah punya jagoan atau putri nih Mbak?”
“Engg…kebetulan belum dua-duanya Tik, doain aja ya biar nyusul kamu.”Sofie berusaha tersenyum. Dalam hatinya ia ingin cepat2 menyelesaikan pembicaraan ini. Soalnya Sofie paling ga tahan melihat tatapan orang-orang yang seakan2 iba ketika mengetahui bahwa dirinya belum dikaruniai anak, padahal sudah lama menikah!
“wah, maaf ya Mbak,”suara Kartika terdengar iba,”iya pasti saya doain deh.”
“Iya ga pa-pa Tik. Ya sudah, sampai ketemu lagi ya. Aku musti buru2 nih, belum masak.”
“Ok deh Mbak, salam buat suaminya ya. Assalammu’alaykum.”
“Sama2 Tik, wa’alaykum salam.” Segera Sofie berlalu, moodnya untuk belanja bulanan jadi hilang. Hatinya sedih, tiba-tiba saja dia merasa sangat iri dengan nasib baik Kartika. Menahan air mata, Sofie melangkah pulang.
Dalam perjalanan pulang tiba-tiba saja Sofie menjadi sangat sensitive. Ketika dia melihat sepasang suami-istri dengan seorang anak balitanya yang sedang bersenda gurau, hatinya dilanda kecemburuan yang teramat sangat. Belum lagi ketika seorang pedangang mainan anak melintas sambil menawarkan dagangannya ke Sofie,”sayang anak bu, sayang anak? Beli mainannya Bu?”
Sofie yang lagi sensi spontan mendelik sewot ke abang tukang mainan. Ga tahu apa si abang kalo saya belum punya anak? Dalam hati ia protes. Tinggal si abang tukang mainan yang bingung disewotin sedemikian rupa oleh Sofie..duile nih Ibu galak bener ya…demikian batinnya Sofie mempercepat langkahnya. Rabbi…kapankah Kau akan mempercayakan padaku untuk memiliki anak? Tes…akhirnya air mata itu jatuh juga di pipi putih Sofie….
Sore harinya, sambil menunggu suaminya pulang Sofie mendengarkan acara tanya jawab agama di salah satu stasiun radio. Acara itu diasuh oleh seorang Ustadz yang sedang digandrungi oleh kaum ibu saat ini.
“Jadi Ustadz, apa yang harus saya lakukan? saya belum mau memliki anak. Saya dan suami bermaksud untuk berkarir dulu, kami belum mau direpotkan oleh kehadiran anak, sementar saya sudah hamil. Bagaimana Ustadz, apakah saya boleh menggugurkan kandungan saya?”
Astaghfirullah! Wanita macam apa dia yang tega menggugurkan kandungannya sendiri? Sofie geram. Dirinya yang sangat merindukan kehadiran anak tapi belum juga diizinkan untuk mengandung merasa sangat marah pada si penelpon tadi!
Akhirnya tanpa ingin mendengarkan lebih jauh lagi, Sofie mematikan radionya. Hatinya kesal, mengapa ada wanita seperti itu yang tidak mensyukuri karunia Allah yang Maha Agung?
Sofie menghela nafas. Tiba-tiba dirinya merasa lelah sekali. atau lebih tepatnya hatinya merasa sangat lelah. Hari ini betapa ia mencoba untuk menahan emosi, sementara Sofie bukanlah orang yang pandai dalam menahan kesabaran. Tiba-tiba juga ia merasa kangen berat sama suaminya, dan lagi-lagi air mata menetes di pipinya. Sofie terisak sendirian, dia benci sekali mengapa dia menjadi sangat melankolis begini? Cepat dia beristighfar, Ya Rabb, Yang Maha membolak-balikkan hati, semoga kesedihan ini hanya sesaaat saja…Sofie mengusap air matanya, menarik nafas panjang, berusaha untuk mengendalikan emosinya. Tiba-tiba didengarnya suara ibunya dari pintu depan.
“Assalammu’alaykum… Sofie?.”
Bergegas Sofie membukakan pintu untuk ibunya.
“Wa’alaykum salam, Bu.” Sofie mencium tangan ibunya.
“ini ibu bawakan bolu pisang kesukaanmu. Loh, kamu habis menangis ya Sof?”ibunya mengamati wajah Sofie yang sendu.
Sofie tersenyum, “Masuk yuk Bu, kita ngobrol di dalem aja.” Sofie menarik tangan ibunya. Mereka duduk di ruang makan.
“Ada apa Sof? Mau cerita sama ibu?” tanya ibu lembut.
Sofie terdiam. Sebenarnya dia malu pada ibunya, jika harus meributkan hal ini lagi.
“Sofie…Sofie merindukan kehadiran anak Bu..” akhirnya Sofie berkata pelan.
Ibunya merasa prihatin. Dia tahu betul kalau Sofie sudah sangat berusaha untuk bisa hamil. Mulai dari usaha yang tradisional, sampai konsultasi rutin ke dokter. Beliau mengerti bahwa semua ini tidaklah mudah untuk anaknya.
“Bersabar Sofie..hanya itu yang bisa ibu sarankan untuk kamu..” ibu menggenggam tangan Sofie, mencoba memberikan semagat untuknya.
“Sofie tahu Bu. tapi..mengapa kadang sangat sulit buat Sofie? Apalagi setelah yang Sofie alami hari ini….” Maka keluarlah semua unek2 yang Sofie alami hari ini. Mulai dari obrolannya dengan Bu Hadi sampai saat ia pulang dari hypermarket.
Ibunya menghelas nafas, beliau tersenyum,”Nak, janganlah hal2 seperti itu membuat imanmu menjadi goyah. Keyakinan dalam hatimu itu penting, Sof. Kamu harus yakin bahwa semua ini sudah digariskan oleh Allah, bahwa ini memang yang terbaik dariNya, untuk kamu, suamimu, bahkan juga untuk ibu,”Ibu membelai kepala Sofie,”semua ini hanya ujian Nak, hidup adalah ujian dariNya. Yang terpenting kita sebagai manusia tidak lepas dari usaha, doa dan sabar. Kalau sudah begitu InysaAllah..kamu pasti juga sudah paham kan Sof?” suara ibu yang lembut memang selalu ampuh menenangkan hati Sofie jika ia sedang dilanda kegelisahan.
“Bu, terima kasih ya sudah menyadarkan Sofie lagi..”Sofie mencium tangan ibunya,”Tapi Bu..apa Ibu ga kepingin menimang cucu?”
Ibu tersenyum lagi,”Ya pingin dong Sof…tapi ibu sadar sepenuhnya, masalah anak itu adalah hak Allah. Makanya ibu tak henti2nya mendoakan kamu.”
Sofie otomatis memeluk ibunya erat,”terima kasih ya Bu.” Sekejap segala kegelisahannya perlahanpun sirna..
Setelah mencurahkan perasaannya pada Ibu sore tadi, Sofie sudah merasa jauh lebih baik. Dan saat ini berdua dengan Danu, suaminya, Sofie duduk di teras sambil mengamati bintang-bintang yang bersinar dengan terangnya.
“Mas…” Sofie menggelayut manja di lengan suaminya.
“Ehmm..kenapa Sof?”
“Gimana hari ini di kantor? Ada kejadian yang menarik ga?”
“Wah tumben nih kamu nanyain kantorku, ada apakah gerangan?” Danu tersenyum menggoda
“Ih Mas ini…masa ga boleh aku nanyain tentang kerjaanmu…”Sofie setengah merajuk
“Hehehe…bercanda sayang…Ya boleh dong. Malah aku senang, tandanya istriku perhatian,”Danu merangkul Sofie,”ehmmm….kejadian apa yaa? Oh iya ada yang menarik Sof, tapi bukan tentang kerjaan sih.”
“Oh iya? Tentang apa, Mas?” Sofie penasaran
“Itu, teman kantorku si Yudi. Dia kan baru jadi Bapak tuh. Tadi dia cerita, kewalahan dia Sof. Sekarang hampir setiap malam dia harus bangun malam, gantian sama istrinya jagain bayinya. Jadi, kalo pagi bisa dibayangin deh, udah kayak orang yang ga tidur!” cerita Danu geli.
Sofie terdiam. Baginya cerita suaminya ga ada lucu-lucunya. Malah Sofie sangat ingin mengalami hal seperti itu. Duh..kayaknya Sofie “kumat” lagi nih.
“Eh Sof, kok diam? Kenapa?” kali ini Danu cepat menangkap “signal ga beres” Sofie.
“Emang Mas ga kepingin ya, kayak temen Mas gitu?” tanya Sofie pelan.
“Kayak Yudi? Kurang tidur gitu? Ya ga kepingin dong Sof, bisa-bisa aku ga Fit kerjanya, hehehe.”
Hemm..Danu “telat” lagi nih.
“Ohh, jadi Mas ga kepingin ya punya anak?” Sofie sebel setengah mati mendengar jawaban suaminya.
“Loh?” Duh, salah lagi deh aku..bathin Danu,”Bukan itu maksudku Sof. Aku pasti kepengen punya anak.” Danu mencoba menenangkan istrinya yang terdengar senewen. Dirinya mulai merasa bahwa sensi Sofie lagi kumat..harus waspada! Hehehe..
“kamu kenapa Sof? Kok kayaknya sedih begitu?” lembut Danu bertanya
Sofie melankolis! Tes…air matanya mulai menetes lagi.
“Mas, kalo kita ternyata ga bisa punya anak gimana?” Sofie terisak
“Istighfar Sof…ucapan itu doa kita. Kitakan sudah pernah mendiskusikan soal ini. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah pasrah atas kehendak Allah. Tentunya diiringi dengan usaha, doa dan sabar kita.” Danu membelai pipi istrinya.
“Tapi Mas…kadang Sofie suka ga tahan sama pertanyaan orang-orang,,,”
Danu tersenyum,” Duh, istriku sayang, gitu aja kok repot? Tinggal bilang aja;”iya, belum isi nih, minta doanya ya?” kan dengan begitu jadi makin banyak orang yang doain, makin besar kesempatan kita punya anak, betul ga?” hibur Danu.
Tersenyum, Sofie menggangguk.
“Nah, gitu dong. Janji ya Sof, mulai sekarang kamu ga boleh sedih lagi. Apapun yang terjadi, InsyaAllah semua adalah yang terbaik dariNya.”
Sofie menggangguk lagi,”Iya mas, Sofie akan berusaha untuk lebih bersabar lagi. Mas terus ingetin Sofie ya?”
“InsyaAllah, sama-sama ya sayang.” Mesra Danu merangkul istrinya. Sofie tersenyum bahagia. Walau rasa gelisah itu masih tersisa, namun ada keyakinan baru di hati Sofie, bahwa Allah akan selalu bersama hamba-hambanya yang bersabar…
Istiqomah ya Sofie…
To Write is like To Breath^^
One wish that i still can't fullfill it; To be a Writer. But i do still had this wish come along in every word that i put in here. Well, better than never. Enjoy:)
Minggu, 28 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar