Kedatangan Mbak Lastri
Minggu pagi yang cerah. Burung bersiul dengan riangnya. Matahari bersinar hangat. Saat ini Sofie sedang sarapan berdua dengan suaminya. Danu, pria berkacamata itu sedang sibuk dengan koran paginya, sementara Sofie asyik menyantap roti dengan selai cokelat kesukaannya.
”Oh iya, Sof, ” tiba2 Danu menghentikaan bacaannya.” Hari Selasa nanti, Mbak Lastri akan datang.”
Uhuukk! Spontan Sofie hampir keselek mendengar omongan suaminya. Aduuhh..Mbak Lastri? Semoga Sofie salah dengar..semoga bukan Mbak Lastri...
”Pelan2 dong sayang, kalau makan.” Danu menepuk2 punggung istrinya. Huuh..Mas Danu ga tahu sih, bukan gara2 roti ini, tapi gara2....
”Mas, Mbak Lastri?Maksudnya mau datang ke rumah kita gitu Mas?”
”Iya Sof, dia lagi pengen liburan ke sini selama 3 hari. Kamu siapin kamar yah buat dia.” kemudian Danu meneruskan bacaannya.
Sofie menggigit bibirnya. Aduuhh, alamat ga beres nih. Langsung saja Sofie teringat pada saat kepulangan mereka ke Jogya, kampung halaman Danu Lebaran lalu. Mbak Lastri itu kakak tertua Danu. Kedua orang tua Danu sudah tiada, jadi otomatis saban lebaran, semua keluarga besar Mas Danu berkumpul di rumah Mbak Lastri.
Sofie ingat betul, saat itu pernikahannya baru masuk bulan ke tiga. Wajar dong, kalo Sofie belum bisa masak ini itu, belum telaten ngurus suami. Tapi sepertinya di mata Mbak Lastri, kalau seorang wanita sudah menjadi istri, otomatis harus bisa masak, harus bisa telaten ngurus suami dan kebisaan2 yang lainnya. Jadilah Sofie waktu itu diceramahi panjang lebar oleh Mbak Lastri. Sepertinya di mata kakak iparnya itu, ga ada perbuatan Sofie yang tidak tercela! 3 hari di Jogya saat itu seperti 3 tahun buat Sofie! Saat Sofie curhat kepada suaminya mengenai Mbak Lastri, hanya jawaban ini yang didapatnya,” ya Sabar Sof. Mba Lastri memang seperti itu. Kamu harus bisa adaptasi ya sayang.” huh..bukan solusi. Semenjak itu Sofie jadi pasrah alias nrimo saja.
Dan kini..lusa Mbak Lastri akan datang.. Rabbi...apakah Sofie bisa siap yah, menghadapi Mbak Lastri kali ini..?
Phiiuuhh...saatnya tiba. Sebentar lagi Mbak Lastri akan datang! Mas Danu yang hari ini mengambil cuti untuk menjemput Mba Lastri tadi menelpon, mengabarkan bahwa pesawat Mbak Lastri sudah landing dan saat ini sedang on the way ke rumah. Sepagian Sofie sudah beres2 rumah. Dia yakin betul, tidak ada satu sudutpun yang terlewat! Sementara di meja sudah terhidang semur daging, sayur bayam dan bakwan jagung bikinannya. Eh..sebenernya bukan asli bikininannya sih...tadi pagi ibunya datang membantu sedikit..hehehe...
Sayang ibunya tidak bisa menemaninya menyambut Mbak Lastri, karena masih ada pesenan kue kering yang harus diselesaikan. ” Yang sabar ya Sof. Jangan emosi, ingat loh.” nasihat ibunya.
Ba’da Ashar, terdengar mobil Mas Danu memasuki halaman rumah. Sudah datang! Bergegas Sofie merapikan mukenanya, lalu setengah berlari menuju ke pintu depan. Sofie deg2an sekali. Sofie sudah berdiri di teras sambil memasang senyuman manisnya. Sebenarnya, saking gugupnya Sofie malah merasa dia meringis, bukan tersenyum hehe..
”Mbak Lastri. Assalammu’alaykum,. Apa kabar Mbak?” Sofie bergegas menyambut, mencium tangan Mbak Lastri.
Mbak Lastri tersenyum,”Wa’alaykum salam. Alhmadulillah Mbak baik Sof.” Mbak Lastri memelukku.
”Ayo Mbak, kita masuk. Mbak pasti lelah.” Sofie menggamit tangan Mbak Lastri, mengajak masuk ke rumah.
”Iya Mbak, biar Danu yang bawa tas Mbak.” Danu dengan sigap menurunkan tas2 bawaan Mbak Lastri.
Sofie langsung membawa Mbak Lastri ke kamar tamu yang terletak di lantai atas.
”Mbak istirahat saja dulu ya. Air hangat sudah Sofie siapkan kalau Mbak ingin mandi.”
”kamu baik sekali Nduk. Mbak memang sudah kepingin mandi, jakarta panas sekali.”
”Ya sudah, kamar mandinya di pojok situ Mbak. Sofie tinggal dulu ya.” Mbak Lastri tersenyum menggangguk.
Sukses! Setidaknya Sofie sudah memberikan kesan pertama yang baik!Hemm...mungkin kunjungan Mbak Lastri tidak akan separah yang Sofie bayangkan. Girang, Sofie tersenyum.
Namun rupanya harapan tinggal harapan. Belum ada sehari Mbak Lastri menginap, Sofie sudah mulai menerima kritikan yang tiada duanya!
Bermula saat mereka akan makan malam bersama. Memang salah Sofie sih, karena lupa memanaskan sayur bayamnya. Tapi toh, sayur bayam yang adem juga pasti enak dimakan dengan nasi panas yang mengepul!
”Nduk, kalo sayur itu harus selalu hangat dihidangkannya. Mosok sayur dingin begini kamu kasihkan ke suamimu? Mbak ya ga heran kalo suamimu jadi ga betah di rumah.” Sofie mengkeret, menyalahi dirinya kenapa bisa lupa memanaskan sayurnya.
”Eh, anu Mbak Lastri, Sofie lupa. Biar Sofie panaskan sekarang saja ya.”sigap dia mulai menyalakan kompor.
”Sudah ga usah, kelamaan. Kasihan Danu sudah kelaparan. Jangan sampe dia ga makan gara2 sayur dingin saja.”
Sofie manyun. Sementara Mbak Lastri sudah melangkah menuju meja makan. Dirinya merasa 3 hari kedepan akan menjadi hari yang sangaaat panjang...sigh....
Hari Pertama.
Pagi sekali Sofie sudah mulai bersih2, padahal biasanya sehabis mengantar Mas Danu pergi ke kantor Sofie suka tidur lagi..hehhee...tapi kali ini lain! Dari subuh Sofie sudah mulai gratak grutuk di dapur. Danu sempat2nya menggoda istrinya itu.
”Aduuh..coba kalo tiap hari kamu kayak gini yah..hihihi..”
Uhhh! Sofie gemas, segera saja tangannya melayang mencubit pinggang suaminya. Yang dicubit malah semakin cekikikan sambil negloyor pergi.
Phiiuuhh..Sofie benar2 berharap hari ini dan seterusnya Mbak Lastri mengurangi segala kritikan yang kadang bikin kuping Sofie merah!
Hemm..Mbak Lastri belum bangun. Segera Sofie membuatkan teh buat Kakak iparnya dan suaminya.
”Aduh Sofie. Kamu ini kok boros sekali sih.” Mbak Lastri tiba2 muncul di dapur. Sofie kaget, hampir saja teko yang sedang dipegangnya terlepas dari tangannya!
”Eh, Mbak Lastri sudah bangun. Nge-teh dulu Mbak, ini sudah Sofie buatkan.”Sofie tersenyum gugup.
”Nduk, kamu kalo bikin teh celup jangan hanya satu-dua kali dicelupkan, itu namanya pemborosan! Mana coba kantong tehnya?”, Sofie menyerahkan kantong teh celup yang memang belum dibuangnya,” Nah gini lebih baik, kamu taruh saja di tekonya. Makin lama kan makin pekat, bisa sampe sore.”
Sofie melongo...masalahnya....
”Sof, mana tehku?” suaminya kali ini yang muncul di dapur.
Sofie menyerahkan secangkir teh yang pekat.
”Ya ampun Sof, kok pekat gini sih? Aku kan udah bilang, aku ga suka teh yang item kayak gini. Kamu lupa ya?”
”eehh..ngg anu mas...” Sofie tak bisa berkata2, matanya melirik ke Mbak Lastri.
”Ya sudah, gpp. Lain kali diingat ya sayang. Sudah siang nih, Mas berangkat dulu ya,”Cup, Danu mengecup kening Sofie,” Assalammu’alaykum, Mbak, Danu berangkat.”
Mbak Lastri menggangguk,”Wa’alaykum salam, ati2 ya Nu.”
”Wa’alaykum salam mas..ati2 dijalan..” Sofie mencelos..Rabbi...berikutnya apa?
Hari kedua.
Sofie terbangun dengan malas. Rasanya ingin sekali ia berpura-pura sakit sehingga bisa berdiam diri di kamar sepanjang hari. Kemarin seharian ia sepertinya terus melakukan kesalahan di mata Mbak Lastri! Dari mulai mencuci piring sampai goreng telor ceplok! Sofie yang terbiasa meggoreng telor ceplok dengan bagian merahnya yang terbuyar (lagi2) di beri komentar oleh Mbak Lastri. ”Sofie, kalau goreng telor ceplok jangan dibuyarr gitu merahnya, pamali tahu ga?” tinggal Sofie yang (lagi2 ) cuman bisa manut kritikan Mbak Lastri. Padahal dia ga ngerti dimana letak pamalinya
Siighhh.....padahal masih ada hari ini dan esok! Ketika Sofie keluar dari kamar, di dapur Mbak Lastri terlihat sibuk menyiapkan sarapan, sedangkan Mas Danu sudah duduk di meja makan sambil membaca koran. Sofie menghentikan langkahnya, diam2 mebalikkan badannya, namun terhenti ketika mendengar Mbak Lastri memanggilnya.
”Sofie, baru bangun ya,”Sofie meringis,”Kalau Istri itu bangunnya harus lebih pagi dari suami Nduk. Masa suami sudah mau sarapan istriya masih tidur.” entah mengapa, Sofie jadi ingin menangis mendengarnya. Kan baru kali ini aja Sofie bangun kesiangan! Mbak Lastri mana tahu sih! Danu melirik istrinya, dengan sorotan mata seakan2 mengatakan:”Sabar ya Sof”
Sofie sudah akan meminta maaf ketika didengarnya lagi Mbak Sofie,” Sof, ini Mbak belikan tauge. Nanti dimasak tumis aja ya, biar kamu subur, cepet punya anak.”
Ta..tauge..?su..bur..?Ya Rabbiiii! Jadi Mbak Lastri pikir Sofie ga subur? Makanya belum punya anak? Ya Allah, kali ini Sofie bener2 ga tahan. Setengah mati berusaha menahan air matanya Sofie berkata,”Maaf Mbak Lastri, bukannya Sofie bermaksud untuk tidak sopan, ”Sofie menghela nafas, menahan tangis. Danu panik, melihat gelagat ga beres.
”Dengan segala hormat, Sofie subur Mbak! Sofie dan Mas Danu ga punya masalah dengan kesuburan. Dan..dan kalau sampai saat ini Sofie belum hamil, itu karena Allah yang belum memberikannya kepada kami. Jadi Mbak Lastri ga berhak untuk bilang Sofie ga subur!” emosi Sofie memuncak, nafasnya tersengal menahan amarah, air matanya tak tertahankan lagi, kemudian ia berbalik lari ke kamarnya.
Mbak Lastri terbelalak kaget melihat ”keberanian”Sofie meluapkan emosinya, sampai ga tahu harus berkata apa. Sementara Danu surprise melihat Sofie yang kalem bisa semarah itu, sesaat ia juga sama terkejutnya dengan Mbak Lastri.
”Mbak...”
”Danu..” berbarengan mereka akhirnya berbicara, Danu salah tingkah. Ia merasa sangat bingung. Satu sisi ia kasihan dengan istrinya, tapi di sisi lain ia juga sangat menghormati Mbak Lastri.
”Mbak rasa, Mbak akan pulang hari ini. Sepertinya kehadiran Mbak disini sudah mengganggu istrimu.” lalu tanpa berkata apa-apa lagi Mbak lastri bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Tinggal Danu yang bingung harus berbuat apa?
Di kamar, Sofie terisak-isak. Sungguh rasanya ia sudah tak tahan lagi dengan sikap Mbak Lastri.
”Sof...” danu menyentuh bahu istrinya pelan, lalu duduk di samping Sofie.
”Maaf kan Sofie Mas, Sofie tahu Mas Danu pasti kecewa dengan sikap Sofie tadi. Tapi Mas, Sofie sunguh tersingung atas sikap Mbak lastri..” masih terisak Sofie berbicara.
Danu menghela nafas. Dia memang kecewa dengan sikap Sofie, tapi dia juga mengerti perasaan istrinya.
”Mas ngerti Sof...Mas kecewa memang. Sofie jangan minta maaf sama Mas, tapi dengan Mbak Lastri. Dia tadi kaget banget liat sikapmu.”
Sofie menghapus air matanya,”Mas benar, sudah seharusnya Sofie minta maaf sama Mbak Lastri.” Sofie bangkit dari tempat tidur.
Danu tersenyum,”Terima kasih ya Sof.” Sofie berusaha untuk tersenyum, lalu pergi ke kamar Mbak Lastri.
Di kamarnya, Sofie menjumpai Mbak lastri sedang membereskan koper-kopernya. Sofie merasa tidak enak sekali, rupanya Mbak lastri tersinggung berat dengan sikapnya tadi. Pelan dia mengetuk pintu kamar.
”Mbak Lastri...,”
Mbak Lastri tidak menjawab, hanya menoleh sekilas lalu meneruskan beres-beresnya.
Sofie mendekat lalu duduk perlahan di tempat tidur.
”Mbak Lastri mau kemana? Sofie minta maaf atas sikap Sofie tadi Mbak. Sungguh Sofie ga bermaksud menyinggung perasaan Mbak Lastri...”
Mbak Lastri tidak menjawab, Sofie jadi semakin salah tingkah!
”Mbak...Sofie mohon..Mbak mau maafin Sofie,...Sofie...”
”Sudahlah Sof,”selak Mbak Lastri, ”Mbak sudah mengerti kehadiaran Mbak disini jelas-jelas sudah mengganggu kamu. Makanya,Mbak mau pulang hari ini saja.”
”Aduh Mbak, Mbak Lastri jangan berpikiran seperti itu. Sofie senang dengan kehadiran Mbak Lastri disini..hanya...” Sofie menggantungkan kalimatnya
”Hanya apa Sof? Bener toh, kamu ndak kerasan kalo ada Mbak.”
”Ga Mbak..sungguh..” Sofie bingung harus bagaimana menjelaskan pada Mbak Lastri.
”Lalu kenapa? Mbak sudah merasa sejak awal kamu menikah dengan Danu, kamu itu ndak suka sama Mbak..” tiba-tiba saja Sofie menangkap kesedihan di kalimat Mbak Lastri.
”Mbak Lastri,”Sofie menggenggam lembut tangan Mbak Lastri,”Bukan seperti itu Mbak. Sofie menyesal kalau Mbak Lastri merasa seperti itu. Sesungguhnya, semua ini karena Sofie takut Mbak..”
”Takut kenapa Nduk?”tanya Mbak Lastri heran.
”Takut...kalo ternyata Sofie ga bisa jadi adik ipar yang baik buat Mbak. Apalagi...sejak awal menikah, sepertinya semua yang Sofie lakukan selalu salah di mata Mbak Lastri. Sofie jadi bingung, karena Sofie sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik..” Sofie berkata pelan. Matanya ga berani untuk menatap Mbak Lastri.
”Ya Allah Sof...kamu itu istri yang baik untuk Danu, Nduk..”Mbak Lastri tersenyum.
”lantas, kenapa...”
Kini Mbak Lastri yang menggenggam tangan Sofie,” Maaf ya Nduk, kalau Mbak sudah membuat kamu merasa seperti itu. Semua itu Mbak lakukan karena Mbak ingin kamu bisa membahagiakan Danu utuh sebagai istrinya. Danu itu anak yang baik Sof. Semenjak ibu dan Bapak meninggal, Mbak yang mengurus Danu. Mbak hanya ingin kamu bisa”mengurus” Danu dengan baik. Mungkin...juga bercampur dengan perasaan Mbak yang ”kehilangan” Danu...” Mbak Lastri berkata pelan.
” Mbak, Sofie itu istri yang baik buat Danu. Dia bisa mengurus Danu dengan baik, Mbak ndak usah khawatir.” tiba-tiba saja Danu masuk ke kamar,” Maaf ya Mbak, danu semenjak tadi sudah mendengarkan pembicaraan Mbak sama Sofie.”
Mbak Lastri tersenyum,” Ndak apa le, Mbak yang minta maaf, karen sudah menyinggung perasaan istrimu.”
Spontan Sofie rasanya ingin sekali membahagiakan Mbak Lastri, dipeluknya Mbak Lastri,” Sofie yang minta maaf Mbak. Mbak lastri jangan pulang hari ini ya. Sofie pengen banget diajarin masak sama Mbak”
Mbak Lastri mengusap air mata harunya,” Bener Sof, Mbak masih boleh disini?”
”Mbak Lastri bicara apa toh? Mbak lastri mau disini sampai bulan depan juga Sofie akan senang sekali, Mbak. Disini kan juga rumah Mbak Lastri.”
Mbak Lastri memeluk Sofie,”terima kasih ya Nduk..
Danu tersenyum bahagia. Akhirnya ada ”damai” antara Sofie dan Mbak Lastri.
To Write is like To Breath^^
One wish that i still can't fullfill it; To be a Writer. But i do still had this wish come along in every word that i put in here. Well, better than never. Enjoy:)
Minggu, 28 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar